Persiraja Bubar dan Tak Ikut Divisi Utama 2014

end

Akibat arogansi pejabat Pemkot Banda Aceh

Persiraja Banda Aceh yang mulai melakukan persiapan sejak 26 Februari 2014 terpaksa dibubarkan dan tak ikut kompetisi Divisi Utama 2014 yang dimulai 15 april 2014 mendatang. Langkah ini diambil menyusul tindakan Kadis DPKAD Banda Aceh Drs Purnama Karya pada hari Senin 7 April 2014 yang menutup kantor Persiraja dan mes tempat pemain menginap selama ini.

Tindakan Purnama yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris 1 Persiraja bersikap arogan sekaligus melakukan tindakan penghinaan terhadap Persiraja dan bukti tak ada niat dari Pemko Banda Aceh untuk mendukung Persiraja lagi.

Selain Purnama Karya, pejabat teras Pemko yang ditunjuk oleh walikota Mawardy Nurdin (alm) selaku Ketua Dewan Pembina Persiraja adalah Drs Tarmizi Yahya, Drs Reza Fahlevi sebagai Wakil Ketua Persiraja dan Zahruddin (alm) selaku Ketua Umum.

Sekum Persiraja Said Mursal selaku penanggungjawab tim Persiraja dengan ini menyatakan: “Tim Persiraja Banda Aceh yang disiapkan ke Divisi Utama ISL terhitung Selasa, 8 April  2014 pukul 16.00 WIB dibubarkan.”

Untuk apa mempertahankan lagi Persiraja, fasilitas Stadion Lampineung yang dulu dibangun atas inisiatif Ketum Persiraja H. Dimurthala tahun 1980-an tak diizinkan dipakai oleh pemerintah Kota Banda Aceh. Persiraja sejak Januari 2013 sudah mengirimkan surat ke Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin selaku Ketua Dewan Pembina Persiraja untuk menggunakan Stadion Lampineung. Surat ini dibuat oleh Ketum Persiraja Zahruddin setelah dilaporkan secara lisan. Oleh Mawardy diminta secara tertulis agar dapat diproses sehingga bisa digunakan Persiraja tanpa melanggar ketentuan.

Namun surat tersebut hilang pada Dinas PKAD Banda Aceh. Lalu seorang staf Dinas PKAD T. Khainnas meminta pertinggal surat tersebut pada Wakil Bendahara Persiraja Ardi Asyadi. Surat pertinggal milik Persiraja ini juga raib di Dinas PKAD Kota Banda Aceh.

Lalu, Ketua Umum Persiraja Zahruddin (alm) mengirim surat lagi untuk pemakaian Stadion Lampineung pada Walikota bulan Desember 2013, surat tersebut sudah didisposisi oleh Walkot Mawardy Nurdin (alm) yang pada prinsipnya diizinkan memakai stadion.

Sekum Persiraja Said Mursal dipanggil oleh Bagian Aset Dinas PKAD Banda Aceh untuk diminta bersama mereka membuat surat perjanjian pemakaian Stadion Lampineung. Sebelum konsep surat perjanjian dibuat, Ketua Umum Persiraja Ir Zahruddin meninggal dunia pada 7 Februari dan Walkot Banda Aceh Mawardy Nurdin meninggal dunia pada 8 Februari 2014.

Said Mursal selaku Sekum Persiraja menjumpai Kadis PKAD Banda Aceh Purnama Karya untuk menanyakan prihal kelanjutan membuat surat perjajian tersebut. Purnama mengatakan, tak bisa dilanjutkan lagi surat tersebut, alasannya karena keduanya Ketum Persiraja Zahruddin dan Walkot Mawardy Nurdin sudah meninggal dunia sehingga tak ada yang menandatangani surat tersebut.

Padahal surat tersebut dibuat oleh Zahruddin selaku Ketum Persiraja atas nama organisasi dan ditujukan kepada Walkot Banda Aceh. Oleh Walkot surat tersebut didisposisikan ke Dinas PKAD. Apakah kebijakan seorang Walkot ikut kandas dengan meninggalnya Mawardy Nurdin yang mengambil kebijakan atas nama walikota? Perlu kita pertanyakan kemampuan dan pengetahuan administrasi pemerintahan Purnama Karya selaku pejabat  eselon 2 di Kota Banda Aceh.

Kemudian, pemakaian mes Stadion Lampineung untuk Persiraja sudah diminta Ketua Bidang Promosi dan Bisnis Ir M Nasir Arfan kepada Purnama Karya dan disetujui secara lisan pada awal April 2014 dan Persiraja diminta membuat surat. Surat sudah dibuat Persiraja yang ditandatangani Ir M Nasir Arfan salah satu Wakil Ketua yang masih aktif dan Sekum Persiraja Said Mursal ditujukan kepada Walikota dengan tembusan ke DPKAD Banda Aceh.

Sesuai prosedur, Persiraja sudah menempuh jalur dalam pemakaian Stadion Lampineng dan izin prinsip lisan sudah ada sambil menunggu persetujuan resmi. Langkah seperti ini sudah dilakukan sejak dulu. Pembongkaran paksa kantor Persiraja tanpa pemberitahuan lisan atau tulisan adalah penghinaan pada Persiraja dan bukti nyata tak ada dukungan dari pemerintah kota.

Sejak 26 Februari sampai dengan 7 April 2014, persiapan dan latihan persiraja atas inisiatif 3 orang pengurus Said Mursal, Zulkifli Alfat dan Ir M Nasir Arfan, yang masih aktif. Ini dilakukan sebagai tanggung jawab moral pengurus kepada masyarakat Aceh bahwa setelah meninggal Ketum Persiraja Zahruddin dan Ketua Dewan Pembina Persiraja Mawardy Nurdin, Persiraja masih ada dan tetap jalan. Semua ini dilakukan dengan jalan meminta bantuan dana ke berbagai pihak untuk persiapan dan latihan plus dana membayar hutang tahun 2013 dan biaya untuk kompetisi 2014.

Pengurus ini sudah melakukan pendekatan kepada Ibu Illiza Sa’aduddin Djamal selaku Plh Walkot Banda Aceh dan pihak lain untuk mendukung Persiraja menghadapi kompetisi Divisi Utama 2014. Dukungan moral dari ibu Illiza cukup besar dan seusai pemilu 9 April 2014, beliau berjanji akan bertemu dengan pengurus Persiraja untuk membicarakan langkah Persiraja ikut kompetisi tahun 2014.

Ttd
Sekum/CEO Persiraja
Said Mursal

“Stadion Lampineung siapa punya? Milik Pemerintah Kota Banda Aceh atau Pemerintah Provinsi Aceh?”